shabby

Selasa, 01 April 2014

Pengertian Psikoterapi


Beberapa ini adalah pendapat dari beberapa tokoh tentang pengertian psikoterapi
   Wolberg (1967 dalam Phares dan Trull 2001), mengungkapkan bahwapsikoterapi merupakan suatu bentuk perlakuan atau tritmen terhadap masalah yang sifatnya emosional. Dengan tujuan menghilangkan skimtom untuk mengantarai pola perilaku yang terganggu serta meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan pribadi yang positif
   Corsini (1989) mengungkapkan psikoterapi sebagai suatu proses formal dan interaksi antara dua pihak yang memiliki tujuan untuk memperbaiki keadaan yang tidak menyenangkan (distress).
   Intervensi adalah usaha untuk mengubah kehidupan yang sedang berjalan dengan cara tertentu, perubahan itu bisa kecil atau besar, negative atau positif
   Psikoterapi adalah pengaplikasihan berbagai metode klinis dan sikap interpersonal yang informed (didasari oleh informasi yang cukup ) dan dilakukan secara sengaja, berdasarkan prinsip – prinsip psikologi yang sudah mapan, dengan maksud membantu orang lain untuk memodifikasi prilaku kognisi, emosi, dan karakteristik pribadi lainya ke arah yang diinginkan oleh partisipannya
   Seligman (Phares dan trull, 2001) menyampaikan konsep dalamnya masalah untuk menjelaskan sejumlah kondis atau perilaku yang cenderung dapat dirubah. Tingkat kedalaman masalah tergantung pada apakah masalah terkait dengan detrerminan biologis, apakah masalah terkait dengan beluef yang mendasari, dan sebagainya.
   Korchin (1976) menyatakan bahwa psikoterapi individual merupakan bentuk psikoterapi yang paling mendasar, tetapi dapat pula di dalamnya terdapat lebih dari satu klien. Bentuk individual ini menghubungkan proses psikoterapi dengan partisipan/ orang lain selain partisipan yang dibawa dalam sesi trerapi ketika hal ini diperlukan. Inilah yang disebut “conjoint family therapy”.
   Korchin (1976) menjelaskan asumsi yang mendasari semua jenis psikoterapi adalah bahwa perilaku manusia dapat dirubah. Kepribadian individu dan kemampuan untuk mengatasi masalah (coping) baik adaptif maupun tidak adaptif, mewakili sisa-sisa  hasil belajar sepanjang kehidupan.
   Ilmuan besar Rusia, Pavlov (1849-1936), menemukan hubungan penting antara stimuli dan respons. Seperti diketahui oleh setiap mahasiswa mata kuliah pengantar psikologi, dalam eksperimen klasiknya dengan anjing,  Pavlov pertama-tama melihat bahwa kehadiran bubuk daging membuat anjing itu mengeluarkan air liur (secara teknis stimulus tak-terkondisi menyebabkan respons tak-terkondisi).
   B.F. Skinner (1940-1990) perilaku yang dilakukan dengan bebas disebut operant dan kejadian yang menyanangkan disebut reinforce
Tujuan Psikoterapi
Tujuan ditetapkan aktifitas psikoterapi adalah untuk melakukan perubahan positif terhadap klien atas gangguan yang dialaminya. Biasanya, proses psikoterapi berhubungan dengan metode dan tehnik yang digunakan oleh teapisnya dengan berdasar pada teori kepribadian yang melandasi pemberian psikoterapi
Berikut tujuan psikoterapi dari berbagai pendekatan menurut Ivey (1987) dan Corey (1989).
   Tujuan psikoterapi psikodinamika menurut Ivey adalah membuat sesuatu yang tidak sadar menjadi sesuatu yang disadari. Rekonstruksi kepribadian dilakukan terhadap kejadian yang sudah lewat. Kemudian menyusun sintesis yang baru dari konflik yang telah lalu. Sedangkan menurut Corey, tujuan psikoterapi  psikodinamika adalah membuat sesuatu yang tidak sadar menjadi sesuatu yang disadari. Membantu klien menghidupkan kembali pengalaman-pengalaman yang sudah lewat dan bekerja melalui konflik yang ditekan melalui pemahaman intelektual
   Ivey menggambarkan tujuan psikoterapi Rogerian adalah untuk memberikan jalan terhadap potensi yang dimiliki seseorang agar menemukan sendiri arah wajarnya, menemukan dirinya yang nyata, mengeksploitasi emosi yang mejemuk, dan sebagainya. Sedangkan Corey menggambarkan psikoterapi Rogerian sebagai pemberian suasana aman dan bebas agar klien mengeksplorasi diri dengan baik, mengembangkan diri ke arah keterbukaan, memperkuat percaya diri, dan sebagainya
   Ivey merumuskan tujuan eksistential humanistic sebagai proses untuk menemukan arti dan melakukan tindakan, menyadarkan hal azasi terhadap manusia, mengewmbangkan aspek-aspek diri untuk mencapai kematangan
   Corey menyatakan tujuan eksistential humanistic sebagai upaya membantu seseorang mengetahui ia punya kebebasan, membantu klien mengenali bahwa ia bertanggung jawab, dan untuk mengidentifikasi faktor yang menghambat kebebasannya
   Ivey menyatakan tujuan psikoterapi behavioristik sebagai upaya menghilangkan kesalahan dalam belajar dan berperilaku sesuai pola perilaku yang benar
   Corey, dengan psikoterapi behavioristik  bertujuan untuk menghilangkan perilaku yang tdak sesuai dan belajar perilaku yang efektif
   Ivey menjelaskan tujuan psikoterapi kognitif behavioristik yaitu untuk menghilangkan pikiran menyalahkan diri, mengembangkan berpikir lebih rasional, dan toleran terhadap diri dan orang lain, dan sebagainya.
    Corey merumuskan tujuan psikoterapi kognitif behavioristik dan rasional emotif yaitu untuk menghilangkan cara pandang klien untuk mennyalahkan diri, membantu memperoleh pandangan hidup yang lebih rasional dan toleran, membantu klien untuk memberi metode dalam penyelesaian masalah
   Menurut Ivey dalam pendekatan gestalt memiliki tujuan agar seseorang lebih menyadari kehidupannya dan bertanggung jawab terhadap arah hidup seseorang.
   Tujuan pendekatan gestalt menurut Corey, untuk membantu klien memperoleh pemahaman dalam bertanggung jawab
   Pendekatan terapi realitas menurut Ivey, bertujuan untuk memenuhi kebutuhan seseorang tanpa campur  tangan orang lain agar mampu menentukan keputusan yang bertanggung jawab. Corey merumuskan tujuan terapi realitas yaitu untuk memenuhi kebutuhan dalam menilai apa yang sedang dilakukan.

Bentuk-bentuk Psikoterapi
1.      Jumlah Klien
Korchin (1976) menyatakan bahwa psikoterapi individual merupakan bentuk psikoterapi yang paling mendasar, tetapi dapat pula di dalamnya terdapat lebih dari satu klien. Bentuk individual ini menghubungkan proses psikoterapi dengan partisipan/ orang lain selain partisipan yang dibawa dalam sesi trerapi ketika hal ini diperlukan. Inilah yang disebut “conjoint family therapy”. Psikoterapi kelompok menurut Korchin (1976) dalam berbagai bentuknya umumnya melibatkan anggota antara 6-12 orang yang biasanya belum saling mengenal. Berbeda dengan pendapat Nietzel (1998), bahwa psikoterapi kelompok dilakukan bersama pasangan atau keluarga. Tujuannya adalah untuk memahami gangguan dalam relasi interpersonal dan mengurangi gangguan tersebut. Keunggulan terapi kelompok adalah kelompok dianggap mewakili suatu lingkungan interpersonal, itu lebih baik daripada hanya satu orang terapis. Sehingga dapat lebih menjamin perbaikan hubungan interpersonal.
2.      Jumlah Terapis
Menurut Korchin (1976), terapis yang lebih dari satu dapat mentritmen satu orang klien. Keuntungan dari bentuk seperti inni adalah setiap terapis dapat mengisi peran yang berbeda. Misalnya, satu terapis sebagai pengamat dan terapis lain sebagai interpreter.
3.      Lamanya Terapi
Korchin (1976) menyatakan umumnya terapis memerlukan waktu 50 menit untuk melakukan terapi individual dalam tiap sesinya (meskipun tidak ada ketentuan). Namun, terkadang terapis melakukan terapi lebih singkat dan terkadang lebih lama. Sedangkan waktu yang digunakan dalam terapi kelompok berkisar antara 90 menit hingga 2 jam per unit sesinya, dengan alasan perlu waktu lebiah panjang untuk melakukan pemanasan dan menyatukan sejumlah kelompok menjadi anggota terapi kelompok.
4.      Durasi Terapi
Korchin (1976). Sebuah psikoterapi dapat terlaksana mulai satu sesi hingga belasan bahkan ratusan sesi terapi. Jika dianggap melibatkan perubahan dramatik dalam struktur karakter dasar kepribadian, maka rangkaian terapi panjang dapat direncanakan. Namun ada dan tidaknya terjadi distress yang menjadi penekan, maka dapat dilakukan terapi yang lebih pendek.
Berbagai Pendekatan pada Psikoterapi
Freudian
Terapi-terapi psikodinamika mencakup berbagai pendekatan di mana ketidaksadaran dan pengalaman awal menjadi minat khususnya. Teknik asosiasi bebas dipraktikan secara luas dengan maksud untuk mengembangkan insight. Orang-orang yang mula-mula memisahkan diri teori dan praktik Freud adalah Jung, adler, Horney, dan Sullivan. Alih-alih menekankan pada dorongan seksual, para pakar teori ini menekankan pada faktor-faktor sosial dan kultural. Freud mulai membuat teori tentang penyebab-penyebab yang mendasari dan menghipotesiskan bahwa peristiwa seksual awal yang menyakitkan bagi pasien—seperti penganiayaan atau bujuk-rayu seksual—mengakibatkan kecemasan yang besar dan pada akhirnya menghasilkan berbagai gejala. Teori petama mengenai kecemasan ini menjadi “musibah” awal ketika Freud kemudian menemukan bahwa riwayat pasien-pasiennya tidak selalu mendukung ide bahwa gejala mereka berasal dari trauma psikis yang disebabkan oleh pengalaman seksual awal.
Pendekatan behavioral berkembang dari pekerjaan eksperimental di bidang classical (atau respondent) conditioning oleh pavlov dan operant conditioning oleh Skinner. Kelompok behavioris bergerak ke arah pemahaman yang lebih sosial dan interpersonal, dan terapi-terapi belajar-sosial berkembang dengan kuat.
   Classical Conditioning
Ilmuan besar Rusia, Pavlov (1849-1936), menemukan hubungan penting antara stimuli dan respons. Seperti diketahui oleh setiap mahasiswa mata kuliah pengantar psikologi, dalam eksperimen klasiknya dengan anjing,  Pavlov pertama-tama melihat bahwa kehadiran bubuk daging membuat anjing itu mengeluarkan air liur (secara teknis stimulus tak-terkondisi menyebabkan respons tak-terkondisi). Setelah itu ia membunyikan bel tiap kali menyuguhkan bubuk daging--artinya, ia memasangkan stimulus tak-terkondisi dengan bel sebanyak beberapa kali. Akhirnya, ia hanya membunyikan bel saja-tanpa menyuguhkan bubuk daging-dan hal itu menimbulkan salivasi. Sebuah stimulus netral yang tidak berhubungan—dalam kasus ini bunyi bel–dapat digunakan untuk memunculkan respons tak-terkondisi atau respons refleks--salivasi. Bunyi bel itu menjadi conditional stimulus (CS) (stimulus terkondisi).
   Operant Conditioning
Kehidupan B.F.Skinner (1940-1990), pengembang operant conditioning. Apa inti kontribusi Skinner? Dari permukaan tampak sederhana. Selama ia mengamti tikus-tikus dan burung-burung merpati, ia melihat banyak perilaku yang muncul secara acak, tetapi bintang itu cenderung mengulang perilaku-perilaku tertentu yang diikuti dengan konsekuensi yang menyenangkan. Dalam bahasa behavioral, perilaku yang dilakukan dengan bebas disebut operant dan kejadian yang menyanangkan disebut reinforce.

Terapi-terapi Humanistik
Apa yang dimaksud teori dan terapi humanistik? Kamus Corsini (1999, hlm. 455) mendefinisikan teori humanistik sebagai “sebuah pendekatan umum terhadap perilaku manusia dan kehidupan manusia yang menekankan pada keunikan, keberhargaan dan nilai tujuan pribadi” sedangkan terapi humanistik adalah terapi “yang dimaksudkan untuk menangani manusia secara menyeluruh”. Menangani secara menyeluruh mengacu pada holisme--“sebuah konsep mirip – Gestalt bahwa keseluruhan lebih dari sekadar hasil penjumlahan bagian-bagiannya, jadi organisme yang kompleks tidak dapat dipahami dengan melihat bagian-bagiannya secara terpisah “(Corsini, 1999, hlm, 447)
Terapi-terapi humanistik juga memiliki beraneka macam bentuk. Kepedulian umumnya lebih pada saat ini daripada masa lalu dan memberikan perhatian yang jauh lebih banyak pada makna hidup. Terapi nondirektif (dan kelak menjadi person-centered) Rogers mengilustrasikan salah satu varietasnya. Psikologi Gestalt adalah varietas lainnya. Kadang-kadang dilihat sebagai “angkatan keempat”, psikologi transpersonal menginvestigasi soal-soal spriritul


Sumber :
Sunderberg, Norman D. Winnebarger, Allen A. Taplin, Julian R. 2007.  Psikologi Klinis. Yogyakarta. Pustaka Belajar.
Ardani, Tristiadi Ardi. Rahayu, Iin Tri. Sholichatun, Yulia. 2007.  Psikologi Klinis.Yogyakarta. Graha Ilmu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar